Selasa, 26 Maret 2013

Emosi


A.   Pengertian Emosi
Kata “ emosi “ diturunkan dari kata bahasa prancis, emotion dari emouvoir, “ kegembiraan “ dari bahasa latin “ emovore “ yang artinya mencerca, yaitu sesuatu yang mendorong terhadap sesuatu.dan movere yang berarti “ bergerak.”[1]
Emosi adalah perasaan yang tidak terkendali lebih mendekat pada kejasmanian.
Pada hakikatnya setiap orang itu mempunyai emosi. Dari bangun tidur pagi hari sampai waktu tidur malam hari, kita mengalami bermacam-macam pengalaman yang menimbulkan berbagai emosi pula. Pada saat makan pagi bersama keluarga, misalnya, kita merasa gembira atau dalam perjalanan menuju kantor, menuju kampus, kita merasa jengkel karena jalanan  macet, sehingga setelah tiba ditempat tukuan, kita merasa malu karena datang terlambat, dan seterusnya. Semua itu merupakan emosi kita.
Emosi pada umumnya berlangsung dalam waktu yang relative singkat, sehingga emosi berbeda dengan mood. Mood atau suasana hati pada umumnya berlangsung dalam waktu yang lama dari pada emosi, tetapi intensitasnya kurang apabila dibandingkan dengan emosi. Apabila seseorang mengalami marah ( emosi ) maka kemarahan tersebut tidak segera hilang begitu saja, tetapi masih berlangsung dalam jiwa seseorang ( ini dimaksud dengan mood ) yang akan berperan dalam diri orang yang bersangkutan, namun demikian ini juga perlu dibedakan dengan temperamen. Temperamen adalah keadaan psikis seseorang yang lebih permanent dari pada mood, karena itu temperamen lebih merupakan predisposisi yang ada pada diri seseorang, dank arena itu temperamen lebih merupakan kepribadian seseorang  apabila dibandingkan dengan mood.
Menurut William James ( dalam Wedge, 1995 ), emosi adalah “ kecenderungan untuk memiliki perasaan yang khas bila berhadapan dengan objek tertentu dalam lingkungannya”.
Menurut Crow  ( 1962 ) mengartikan emosi sebagai “  Suatu keadaan yang bergejolak pada diri individu yang berfungsi sebagai inner adjustment ( penyesuaian dari dalam ) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan individu”.
Dari definisi tersebut, jelas bahwa emosi tidak selamanya jelek. Emosi, meminjam ungkapan Jalaluddin Rakhmat ( 1994 ), “ memeberikan bumbu kepada kehidupan, tanpa emosi, hidup ini kering dan gersang.
Berkaitan dengan itu, Coleman dan Hammen ( 1974, dalam Rakhmat, 1994 ) menyebutkan, setidaknya ada empat fungsi emosi.
1.       Emosi adalah pembangkit energi ( energizer ). Tanpa emosi, kita tidak sadar atau mati. Hidup berarti merasai, mengalami, bereaksi, dan bertindak. Emosi membangkitkan dan memobilisasi energi kita, marah menggerakkan kita untuk mrnyerang. Takut menggerakkan kita untuk berlari. Dan cinta mendorong kita untuk mendekat dan bermesraan.
2.      Emosi adalah pembawa informasi ( messenger )
3.      emosi bukan hanya membawa informasi dalam komunikasi intrapersonal, tetapi juga pembawa pesan dalam komunikasi interpersonal.
4.      emosi juuga merupakan sumber informasi tentang keberhasilan.
B.   Macam-macam Emosi
Atas dasar arah aktivitasnya, tingkah laku emosional dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu : pertama, Marah, orang bergerak menentang sumber frustasi; kedua, Takut, orang bergerak meninggalkan sumber frustasi; ketiga, Cinta, orang bergerak menuju sumber kesenangan; keempat, Depresi, orang menghentikan respons-respons terbukanya dan mengalihkan emosi kedalam dirinya sendiri.
Dari hasil penelitian, John B. Watson ( dalam Mahmud, 1990 ) menemukan bahwa tiga dari keempat respons emosional tersebut terdapat pada anak-anak, yaitu: takut, marah, dan cinta.
1.      Marah
Marah adalah keadaan psikologis yang menyimpang watak seseorang dari jalan yang dialami. ( Hartati, 2005:114 )
 Arif Budiman dan Abu Bakar Baraja dalam wetrimudrison, 2005:2 ) menyebutkan dalam bukunya mental sehat hidup nikmat. Mental sakit hidup pahit. Bahwa marah sebagai suatu emosi yang disebabkan karena seseorang menghadapi suatu keadaan yang tidak disukainya, atau bertentangan dengan kemauannya.
Dalam kitab ihya ulumuddin ( Imam Al-Gazali dalam wetrimudrison 2005:2 ) menerangkan bahwa marah bagaikan nyala api yang menyala berkobar- kobar, menyerang bergerak dalam hati manusia.
Secara psikologis marah adalah fenomena emosional. Dari beberapa pengertian marah diatas, maka dapat disimpulkan bahwa marah adalah bentuk ekspresi manusia untuk melampiaskan ketidakpuasan, kekecewaan atau kesalahannya ketika terjadi gejolak emosional yang tidak terkendalikan.
Sedangkan ( Tice dalam Goleman,2003:82 ) menemukan bahwa amarah merupakan suasanan hati yang paling sulit dikendalikan. Marah merupakan suatu emosi penting yang mempunyai fungsi esensial bagi kehidupan manusia, yakni membantunya dalam menjaga dirinya. Pada waktu seseorang marah, energinya guna melakukan upaya fisik yang keras semakin meningkat. Ini memungkinkannya untuk mempertahankan diri atau melakukan segala hambatan yang menghadang dijalan dalam upaya untuk merealisasikan tujuan-tujuannya.
Emosi marah yang menguasai diri seseorang bisa membuat macet kemampuan berpikirnay yang sehat. Kadang-kadang ia melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang memusuhi, yang disesalinya setelah kemarahannya reda. ( Najati, 1985:79 )
Beberapa hal yang menyebabkan marah : Faktor penyebab mengapa seseorang maenjadi marah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: eksternal dan internal. Factor eksternal adalah hal-hal yang datang dari luar diri  sang individu. Contoh marah kepada atasan atau bawahan, dan lain-lain kemarahan juga dapat disebabkan oleh adanya factor-faktor yang ada dalam diri sendiri. Dengan kata lain ada unfinished business ( masalah yang tidak tuntas ) yang bisa memicu timbulnya marah. Contoh: ketakutan atau kekhawatiran terhadap sesuatu hal tertentu, ketidakmampuan dalam berinteraksi, adanya pengalaman traumatic ataupun kenangan pahit pada masa lalu.
2.      Takut
Pada dasarnya rasa takut itu bermacam-macam. Ada yang timbul karena seorang anak kecil memang ditakut-takuti atau karena berlakunya berbagai pantangan dirumah. Akan tetapi, ada juga rasa takut “ naluriah “ yang terpendam dalam hati sanubari setiap insane. Misalnya saja rasa takut akan tempat gelap, takut berada ditempat sepi tanpa teman, atau takut menghadapi hal-hal asing yang tidak dikenal. Kengeri-ngerian ini relative lebih banyak diderita oleh anak-anak daripada orang dewasa. Karena, sebagai insan yang masih sangat mudah, tentu saja daya tahan anak-anak belum kuat.[2]
Setiap anak kerap kali diganggu oleh rasa takut dan pada beberapa anak, rasa takut ini sedemikian kuatnya, sehingga kebebasan mereka untuk bergerak menjadi sangat terhambat.
Sebenarnya orang dewasapun sering mengalami rasa takut ini. Banyak pula diantara mereka harus terus bergulat dengan masalah-masalah yang tidak terselesaikan yang secara langsung atau tidak langsung  berakar pada ketakutan-ketakutan yang mereka alami pada waktu kanak-kanak dulu.
Ada beberapa cara untuk mengatasi rasa takut pada anak :
Pertama; ciptakanlah suasana kekeluargaan/ lingkungan social mampu menghadirkan rasa keamanan dan rasa kasih saying. Kedua; berilah penghargaan terhadap usaha-usaha anak dan pujilah bila perlu. Ketiga; tanamkan pada anak bahwa ada kewajiban social yang perlu ditaati. Keempat; tumbuhkan pada diri anak kepercayaan serta keberanian untuk hidup; jauhkanlah ejekan dan celaan.
3.      Cinta
Apakah cinta ? sesungguhnya betapa sulitnya kita menjelaskan kata yang satu ini. Sama halnya ketika kita harus mendefinisikan ihwal kebahagiaan. Penyair Mesir, Syauqi Bey, melukiskan “ cinta “ dalam sebuah sajaknya:
Apakah cinta ? mulanya berpandangan mata. Lantas saling senyum. Kata berbalas kata dan memadu janji akhirnya bertemu.
Namun yang digambarkan Syauqi Bey ( dalam Akbar, !995: 14 ) diatas adalah cinta romantis, yaitu cinta waktu pacaran yang kadang-kadang berakhir putus setelah puas bertemu dan memadu cinta, tidak sampai mengikat kejenjang pernikahan. Adapun cinta yang tumbuh dalam pernikahan adalah lebih kuat dan lebih agung, karena Tuhan menciptakannya untuk menjalain pernikahan itu menjadi kekal, tidak gampang diputuskan, itulah yang dapat menumbuhkan rasa bahagia, membuahkan sakinah, menimbulkan kesetiaan yang tahan uji, yang tidak mudah ditembus oleh godaan dan rayuan siapapun.
A.   Gejala- gejala Kejiwaan Yang Digolongkan Dalam Emosi.
Ø  Perasaan
Perasaan ialah suatu keadaan kerohanian atau peristiwa kejiwaan yang kita alami dengan senang atau tidak senang dalam hubungan dengan peristiwa mengenal dan bersifat subyektif. Unsur-unsur perasaan adalah sebagai berikut.
·  Perasaan bersifat subyektif daripada gejala mengenal.
· Perasaan bersangkut paut dengan gejala mengenal.
· Perasaan dialami sebagai rasa senang atau tidak senang, yang tingkatanya tidak sama.
Perasaan lebih erat hubungannya dengan pribadi seseorang dan berhubungan pula dengan gejala-gejala jiwa yang lain. Oleh sebab itu, tanggapan perasaan seseorang terhadap sesuatu tidsak sama dengfan tanggapan persaan orang lain, terhadap hal yang sama. Sebagai contoh ada 2 (dua) orang bersama-sama menyaksikan pementasan drama. Seorang diantaranya menanggapi pementasan para pemeran tersebut dengan rasa kagum dan senang, singkatnya dia menilai penampilan pementasaan drama itu sangat sempurna, tapi seorang yang lain menanggapi pementasan tersebut dengan acuh tak acuh, tampaknya pementasan itu biasa-biasa saja dan tidak menarik.
Karena adanya sifat subyektif pada perasaan inilah maka gejala perasaan tidak dapat disamakan dengan gejala mengenal, tidak dapat disamakan dengan pengam,atan, fikiran dan sebaginya. Perasaan tisdak merupakan suatu gajala kejiwaan yang terdiri sendiri, tetapi bersangkut paut dengan gejala mengenal. Kadng-kadang gejala perasaan diiringi oleh peristiwa mengenal dan sebaliknya pada suatu ketika gejala perasaan yang menyertai peristiwa mengenal. Gejala persaan bergantung pada:
a.       Keadaan jasmani,  misalnya badan dalam keadaan sakit, perasaan mudah tersinggung dari pada badan dalam keadaan sehat dan segar.
b.      Pembawaan, ada orang yang pembawaan berperasaan halus, sebaliknya ada pula yang kebal perasaannya.
c.       Perasaan seseorang berkembang sejak ia mengalami sesuatu. Keadaan yang dpat memengaruhi perasaan dapt memberikan orak dalam perkembangan perasaan.
Perasaan selain bergantung kepada stimulus yang datang dari luar, perasaan juga bergantung kepada :
a.       Keadaan jasmani individu yang bersangkutan.
b.      Keadaan dasar individu. Hal ini erat hubungannya dengan struktur individu.
c.       Keadaan individu pada suatu waktu, atu keadaan yang temporer seseorang.
      Tiga Dimensi Perasaan Menurut Wundt.
Menurut Wundt, perasaan tidak hanya dapat dialami individu sebagai perasaan senang atau tidak senang, tetapi masih dapat dilihat dar dimensi lain. Memang salah satu segi perasaan itu dialami sebagai perasaan yang menyenangkan atau tidak menyenagkan. Hal ini dinyatakan oleh Wundt sebagai dimensi yang pertama. Disamping itu masih terdapat dimensi lain bahwa perasaan itu dapat dialami sebagai suatu hal yang “exited” atau sebagai “inert feeling”, hal ini oleh Wundt dipergunakan sebagi dimensi yang kedua.disamping itu masih adanya dimensi lain yang dipegunakan sebagai dimensi yang ketiga yaitu “expextancy” dan “release feeling”
Sehubungan dengan soal dan waktu dan perasaan, Strens juga membedakan perasaan dalam tiga golongan yaitu.
a.       Perasaan-perasaan presens, yaitu yang bersangkutan dengan keadaan-keadaan sekarang yang dihadapi. Hal ini berhubungan dengan situasi yang aktual.
b.      Perasaan-perasaan yang menjangkau maju, merupakan jangkauan kedepan dalam kejadiaan-kejadiaan yang akan datang, jadi masih dalam pengharapan.
c.       Perasaan-perasaan yang berhubungan dengan waktu-wktu yang telah lalu, atu melihat kebelakang yang telah terjadi.

    Perasaan dan Gejala-Gejala Kejasmaniaan.
Gejala perasaan tidak berdiri sendiri, melainkan bersangkut paut dengan gejala-gejala jiwa yang lain bahkan perasaan dengan keadaan tubuh ini memang tidak dapat dipisahkan, contoh:
Kalau ada orang bercakap-cakap biasanya disertai dengan gerakan tangan. Gerakan ini tidak lain dari ungkapan perasaan untuk memperjelas apa yang dikatakan. Orang yang sedang menghormati orang lain, biasanya disertai dengan gerakan tangan
            Tanggapan-tanggapan tubuh terhadap perasaan dapat berwujud:
Ø  Mimik, gerak roman muka
Ø  Pantomimic, gerakan-gerakan anggota badan bagi orang bisu tuli, terdiri dari gerakan-gerakan yang termasuk mimik dan pantomimik.
Ø  Gejala pada tubuh, seperti denyut jantung bertambah cepat dari biasanya, muka menjadi pucat dan sebagainya.

      Macam-Macam Perasaan

Dalam kehidupan sehari-hari sering didengar adanya perasaan yang tinggi dan perasaan yang rendah. Keadaan ini menunjukkan adanya suatu klasifikasi dari perasaan. Max Scheler mengajukan pendapat bahwa ada 4 macam tingkatan dalam perasaan, yaitu:
a.       Perasaan Pengindraan
Perasaan ini merupakan perasaan yang berdasarkan atas kesadaran yang berhubungan dengan stimulus pada kejasmanian, misalnya rasa sakit, panas, dingin.
b.      Perasaan Vital
 Perasaan ini bergantung kapada keadaan jasmani seluruhnya, misalnya rasa segar, lelah dan sebagainya.
c.       Perasaan kejiwaan.
Perasaan ini merupakan perasaan saperti rasa gembira, susah, takut.
d.      Perasaan kepribadian.
Perasaan ini merupakan perasaan yang berhubungan dengan keseluruhan pribadi, misalnya perasaan harga diri prasaan putus asa , perasaan puas (Bigot, Kohstamm, palland, 1950)
Disamping itu kohstamm memberikan memberikan klasifikasi perasaan sebagai berikut:
a.       Perasaan keinderaan
Perasaan ini adalah perasaan yang berhubung dengan alat-alat indera, misalnya perasaan yang berhubungan dengan pencecapan, umpamanya asam asin, pahit, manis; yang berhubungan dengan baud an sebagainya. Juga termasuk dalam hal ini perasaan-perasaan lapar, haus, sakit, lelah dan sebagainya.
b.      Perasaan kejiwaan  (  Rohani  )
Dalam golongan ini perasaan masih dibedakan lagi atas:
1)      Perasaan intelektual
Perasaan ini merupakan jenis perasaan yang timbul atau menyertai perasaan intelektual, yaitu perasaan yang timbul bila orang dapat memecahkan sesuatu soal, atau mendapatkan hal-hal yang baru sebagai hasilkerja dari segi intelektualnya. Perasaan ini juga dapat merupakan suatu mendorong atau dapat memotivasi individu dalam berbuat; perasaan ini juga dapat merupakan motivasi dalam lpangan ilmu pengetahuan.
2)      Perasaan Kesusilaan
Perasaan kesusilaan timbul kalau orang mengalami hal-hal yang baik atau buruk menurut norma-norma kesusilaan. Hal-hal yang baik akan menimbulkan perasaan yana positif, sedangkan hal-hal yang buruk akan menghasilkan menimbulkan perasaan yang negatif.
3)      Perasaan Keindahan
Perasaan ini timbul kalau orang mengamati sesuatu yang indah atau yang jelek. Yang indah menimbulkan perasaan positif, yang jelek menimbulkan perasaan yang negatif.
4)      Perasaan Kemasyarakatan
Perasaan ini timbul dalam hubungan dengan orang lain. Kalau orang mengikuti keadaan orang lain, adanya perasaan yang menyertainya. Perasaan dapat bermacam-macam coraknya, misalnya benci atau antipasti, senang atau simpati.
5)      Perasaan Harga Diri
Perasaan ini merupakan perasaan yang menyertai harga diri seseorang. Perasaan ini dapat positif, yaitu kalau orang mendapatkan penghargaan terhadap dirinya. Perasaan ini dapat meningkat kepada perasaan harga diri lebih. Tetapi perasaan ini juga dapat bersifat negatif, yaitu bila orang mendapatkan kekecewaan. Ini dapat menimbulkan rasa harga diri kurang.
6)      Perasaan Ketuhanan
Perasaan ini berkaitan dengan kekuasaan Tuhan. Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan adalah dianugerahkannya kemapuan mengenal Tuhannya. Perasaan ini digolongkan pada peristiwa psikis yang paling mulia dan luhur. Kemampuan  yang demikian ini tidak terdapat dalaam diri binatang. Walaupun binatang itu sendiri dapat berpikir (dalam bentuk sederhana), tetapi tidak mampu hidup beragama. Oleh karena itu, pemilihan pola hidup religious adalah merupakan keputusan pribadi yang paling asasi dan memberikan kekuatan dalam menghadapi segala badai taufan kehidupan.

Ø  Affek dan Stemming (Suasana Hati)
Affek dapat diuraikan sebagai rasa ketegangan hebat kuat, yang timbul dengan tiba-tiba dala waktu singkat, tidak disadari dan disertai dengan gejala-gejala jasmaniah yang hebat pula. Sebagai akibatnya, pribadi yang mehinggapi affek tersebut tidak mengenal atau tidak menyadari lagi terhadap sesuatu yang diperbuatnya. Sedangkan Stemming adalah suasana hati bayangan berlangsung agak lama, lebih tenang, berkesinambungan, dan ditandai dengan cirri-ciri perasaan senang atau tidak senang.
Wilhelm Wundt. Tokoh psikologi eksperimental dalam sebuah analisis intropeksi telah menemukan affek dalam 3 komponen, yaitu:
a.       Affek yang disertai perasaan senang dan tidak senang.
b.      Affek yang menimbulkan kegiatan jiwa atau melemahkan.
c.      Affek yang berisi penuh ketegangan dan affek penuh relaks (mengendorkan).
Sedangkan Immanuel Kant membagi affek tersebut dalam dua ketegori, yaitu:
a.       Affek Sthenis (sthenos = kuat, perkasa) dengan mana individu menyadari kemampuan dan kekuatan tenaganya, sehingga aktivitas jasmani dan rohani bias dipertinggi.
b.      Affek Asthenis, ialah affek yang membawa perasaan kehilangan kekuatan, sehingga aktifitas fisik dan psikisnya terlumpuhkan karenanya.
Stemming atau suasana hati dapat diartikan sebagai suasana hati yang berlangsung agak lama, lebih tenang, berkesinambungan dan ditandai dengan ciri-ciri perasaan senang atau tidak senang. Sebab-sebab suasana hati itu pada umumnya ada dalam bawah sadar, namun ada kalanya juga disebabkan oleh factor jasmaniah. Jika suasana hati ini konstan sifatnya, maka peristiwa ini disebut “humeur”.

Ø  Simpati
Simpati ialah Sesuatu kecenderungan untuk ikut serta merasakan segala sesuatu yang sedang dirasakan orang lain. Dengan kata lain, suatu kecenderungan untuk ikut serta merasakan sesuatu yang sedang dirasakan oleh orang lain. Simpati dapat timbul karena persamaan cita-cita, mungkin karena penderitaan yang sama, atau karena berasal dari daerah yang sama, dan sebagainya. Contoh : ketika ada tetangga yang berusaha untuk membantu, simpati lebih banyak terlihat pada hubungan sebaya dan lain-lain.[3]
Gejala perasaan yang berlawanan dengan simpati ialah antipati. Gejala perasaan ini menunjukkan ketidaksenangan kepada orang lain. Ketidaksenangan ini dapat berujud suatu kebencian. Dari kebincian ini terdapat unsur berlawanan atau bermusuhan. Antipasti ini timbul karena bermacam-macam sebab seperti halnya sempati.
Ø  Empati
Empati ialah suatu kecenderungan untuk merasakan sesuatu yang dilakukan orang lain andaikata dia dalam situasi orang lain tersebut. Karena empati, orang mengunakan perasaannya dengan effektif dalam situasi orang lain, didorong oleh emosinya seolah-olah dia ikut mengambil bagian dalam gerakan-gerakan yang dilakukan orang lain. Contoh : seorang ibu akan merasa kesepian ketika anaknya yang bersekolah diluar kota, ia rindu memikirkan anaknya hingga beliau terjatuh sakit.[4]

Ø  Masalah-Masalah Praktis.
a.      Fungsi Perasaan
1)      Mempunyai pengaruh yang besar kepada setiap perbuatan dan kemaun.
2)      Perasaan itu cepat dan mudah menular.
3)      Menyangkut perasaan indriawi seperti panas, dingin, sejuk, sedap dan lain-lain, juga perasaan vital. Perlu dilakukannya pembiasan demi pengembangan kepribadian.
4)      Seyogyanya senantiasa ditumbuhkan perasaan intelektual dalam  upaya membangkitkan motivasi.
5)      Gangguan yang serius dan kronis pada kehidupan perasaan dapat mengakibatkan timbulnya tingkah lakju abnormal dan gejala neurosa.
b.      Emosi dan Perkembangan Pribadi.
Karena emosi berpengaruh terhadap kejiwaan, berarti berpengaruh juga tehadap kemuan dan perbuatan. Maka gejala jiwa itu berpengaruh juga terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi.
1)      Kekuatan perasaan dapat diperkuat dan dapat diperlemah. Kemungkinan semacam itu memberikan kesempatan yang baik kepada usaha-usaha pendidikan.
2)      Pendidikan perasaan adalah sangat penting. Usahakanlah suasana dan rangsang-rangsang yang dapat membangun dan mengembangkan perasaan yang baik dan luhur, dan tiadakanlah keadaan yang merangsang timbulnya perasaan-perasaan rendah dan negative,
3)      Karena emosi mempunyai sifat menjalar/menular/merembet, maka jangan membawakan emosi-emosi yang negative dalam hubungannya dalam sesama, baik dalam pergaulan pendidikan maupun dalam pergaulan pada umumnya.

referensi : http://echamdiya.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar